Inisiatif Sholat Paspampres Saat Kawal Jokowi Bikin Heran, Bagaimana Pendapat Ulama?

Inisiatif Sholat Paspampres Saat Kawal Jokowi Bikin Heran, Bagaimana Pendapat Ulama?

Dailykabar.com – Sebuah video lama yang memperlihatkan aksi sholat Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) ketika mengawal Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali jadi perbincangan. alasannya beberapa orang menilai Paspampres sholat dengan tiada khusyuk. Lantas bagaimana aksi sholat Paspampres ketika kawal Jokowi menurut pandangan ulama? 

Diketahui, momen yang disebutkan terjadi pada waktu perayaan Idul Adha tahun lalu 1444H/2023 dalam mana Jokowi dengan dengan beberapa Paspampres berada dalam melakukan sholat ied dalam Gedung Agung Yogyakarta. Tetapi terdapat satu momen yang mana menjadi perhatian yaitu pada waktu beberapa Paspampres juga bergabung sholat namun tampak masih fokus mengawasi kondisi sekitar. 

Meskilpun sedang sholat namun sambil mengawasi sekitar, aksi ibadah para paspamres ini lantas menjadi perbincangan publik. Dalam sebuah video yang digunakan diunggah oleh akun Instagram @info_uniik, terlihat Paspampres melakukan sikap rukuk paling akhir tetapi berdiri paling awal. 

Bahkan merekan juga tak serempak bersujud, akan tetapi secara bergantian masing-masing mengubah posisi. Hingga ada Paspampres yang dimaksud melakukan sujud terakhir terlihat menoleh ke kanan serta kiri untuk mengawasi keadaan sekitar presiden tetap memperlihatkan aman terkendali.

Melihat pergerakan Paspampres yang dimaksud terkesan bukan khusyuk ini menghasilkan beberapa orang penasaran dengan pendapat para ulama. Untuk mengetahui jawabannya, mari simak ulasan berikut. 

Gerakan Sholat Paspampres Saat Kawal Jokowi Menurut Ulama 

Perlu digarisbawahi, pendapat ulama berikut ini tidak merujuk dari kejadian Paspampres tersebut. Meskipun begitu mampu menjadi acuan tentang bagaimana seharusnya petugas keamanan menjalankan tugasnya ketika sedang tiba waktunya beribadah.

Menurut Ustadz Khalid Basalamah, terdapat beberapa kondisi yang dimaksud memang sebenarnya mengharuskan seseorang perlu dijaga oleh orang lain. Adapun kondisi yang dimaksud ketika situasi di tempat sebuah tempat tidaklah aman. Maka pada waktu itulah perlu penjagaan dari petugas yang dimaksud bersangkutan. 

“Memang yang dimaksud sedang dijaga itu, kalau sampai tidaklah dijaga mampu berbahaya secara umum bagi umat. Misal gini imam Masjidil Haram kalau beliau sholat itu didampingi dua polisi, polisinya bukan terlibat sholat berdiri stand by lihatin orang. Gapapa menurut fatwa ulama itu, dikarenakan imam ini kalau nggak dijaga dikeroyokin orang,” kata Ustadz Khalid Basalamah. 

“Atau menjaga pasukan, ini juga termasuk dibolehkan. Bahkan sebagian ulama mengungkapkan dibolehkannya pada ketika negara tiada aman untuk sebagian prajurit meninggalkan sholat Jumat. Mereka berjaga-jaga, merekan beberapa orang nanti sholat Dzuhur. Itu memang benar telah umum fatwa ulama,” sambungnya. 

Selain itu, Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan juga menerangkan bahwa Allah SWT telah lama mewajibkan sholat hari terakhir pekan serta sholat jamaah secara fardhu terhadap kaum laki-laki, kecuali ada halangan yang digunakan memberatkan atau menyusahkannya sesuai syari. 

Di antara udzur itu adalah oleh sebab itu sakit yang mana tiada memungkinkan seseorang untuk mengerjakan sholat di tempat masjid. Dahulu Nabi Muhammad SAW ketika sakit, beliau juga tak hadir sholat. Ketika itu beliau hanya saja mengatakan: 

“Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam” (HR. Al-Bukhari no.664 serta Muslim no.418) 

Dalam hadits lainnya disebutkan bahwa “siapa yang mana mendengar adzan, tapi tidak ada mendatanginya, maka tidak ada ada sholat baginya, kecuali apabila ada udzur”. 

Adapun sakit yang dimaksud dimaksud adalah ketika ia mengunjungi sholat hari terakhir pekan takut sakitnya akan semakin parah atau lama sembuhnya. Sehingga ia diperpolehkan untuk meninggalkan sholat hari terakhir pekan atau jamaah fardhu.  

Udzur lain diperbolehkannya individu laki-laki meninggalkan sholat Hari Jumat dam jamaah fardhu adalah pada waktu seseorang merasa tiada mampu berjalan ke masjid oleh sebab itu sudah ada lanjut usia atau cacat. Namun, apabila ada alat bantu yang bisa jadi membawanya ke masjid maka wajib baginya untuk sholat Hari Jumat di area masjid. 

Selain itu, udzur berikutnya diberikan terhadap orang yang tersebut sedang menahan kencing atau BAB serta bila tak segera dikeluarkan akan menyebabkan dampak buruk. Adapun udzur ini diberikan dikarenakan akan menghalangi kesempurnaan serta kekusyukan sholat.  

“Tidak ada sholat pada waktu makanan dihidangkan, begitu juga pada waktu seseorang menahan kencing atau BAB” (HR. Muslim no. 560) 

Sebab berikutnya yaitu ketika seseorang dihidangkan makanan yang mana ia perlukan. Artinya, jikalau makanan dihidangkan bertepatan dengan waktu sholat maka boleh mendahulukan memakan makanannya terlebih dahulu.

Sehingga tiada perlu tergesa-gesa untuk memakannya. Baru setelahnya itu, orang yang dimaksud bisa jadi segera menunaikan sholat sendiri. 

Selain itu, udzur lain yang menggugurkan kewajiwan sholat hari terakhir pekan serta jamaah adalah ketika takut kehilangan hartanya.

Contohnya ketika seseorang takut ada pencuri atau serigala yang memangsa ternaknya hingga seseorang yang dimaksud takut rusaknya hasil panen ketika dijemur.  

Udzur lainnya diberikan terhadap orang yang dimaksud sedang menjaga orang sakit. Apabila orang yang digunakan sakit itu ditinggalkan maka akan membuatnya mati atau kesusahan.

Penyebab itu juga berlaku terhadap petugas keamanan seperti satpam, polisi atau anggota militer yang berkewajiban menjaga suatu tempat atau seseorang. Ia diperbolehkan tak melakukan sholat jumat atau sholat berjamaah.

Sebab apabila tugasnya untuk menjaga keamanan diabaikan demi melakukan ibadah yang hukumnya sunnah maka ia malah mendapatkan keburukan. 

Sholat jumat serta sholat berjamaah juga boleh ditinggalkan bila orang itu terjebak lumpur, hujan salju atau hujan es yang mana lebat. 

Diantara beberapa sebab pada atas, menjadi sah bila terjadi tanpa sengaja atau tak sesuai kehendak. Artinya, semua perkara itu datang tanpa disengaja. Lain halnya bila seseorang sengaja meninggalkan sholat hari terakhir pekan atau jamaah tanpa sebab yang syari. 

Terkait aksi sholat Paspampres pada waktu kawal Jokowi menurut ulama, alangkah baiknya jikalau situasi tidak ada di bahaya seseorang menunaikan sholatnya dengan tumakninah dan juga khusyuk. Agar amalan ibadahnya diterima Allah SWT.

Maka jikalau memang sebenarnya miliki tugas yang tersebut memang sebenarnya telah menjadi kewajibannya untuk menjaga keselamatan kemudian keamanan, seharusnya Paspampres ini lebih banyak mengutamakan hal tersebut. Apalagi hukum sholat ied itu tidak wajib, melainkan sunnah muakkadah.

Demikianlah ulasan terkait pandangan ulama mengenai aksi sholat Paspampres pada waktu kawal Jokowi. Semoga bermanfaat! 

Kontributor : Putri Ayu Nanda Sari