Kejagung Pastikan Kasus BTS 4G BAKTI Masih Terus Diperiksa

Kejagung Pastikan Kasus BTS 4G BAKTI Masih Terus Diperiksa

Dailykabar.com – JAKARTA – Kejaksaan Agung ( Kejakgung ) memverifikasi pengusutan korupsi Based Transciever Station ( BTS) 4G BAKTI Kementerian Komunikasi kemudian Informatika (Kemenkominfo) 2020-2022 masih berjalan. Kasus ini akan tetap memperlihatkan dilanjutkan penyidikannya.

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kuntadi mengatakan, dua terperiksa mantan pejabat Kemenkominfo, Elvano Hatorongan (EH), dan juga Muhammad Feriandri Mirza (MFM) akan segera menyusul disidangkan ke Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Jakarta.

“Elvano itu, sudah ada P-21 (berkas perkara lengkap). Dan si Feriandri itu, juga telah selesai, juga akan segera diadili,” kata Kuntadi ketika ditemui di tempat Gedung Pidana Khusus (Pidsus), di tempat Kejakgung, Jakarta, Kamis (11/1/2024).

Sementara yang lainnya, kata Kuntadi, masih terus dijalankan penyidikan. “Yang masih penyidikan, seperti AQ (Achsanul Qosasi) masih berjalan. Dan akan terus diusut penerimaan uangnya,” kata Kuntadi.

Tiga terperiksa Elvano, Feriandri, serta Qosasi ini, sebetulnya berbeda klaster perkara pada waktu penyidikan dilakukan. Elvano, serta Feriandri ditetapkan dituduh selaku peran turut dan juga di memanipulasi serta pengaturan, atau prakondisi pada pada waktu proses tender pengerjaan juga infrastruktur pendukung 4.200 unit menara BTS 4G BAKTI.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah mengatakan, pasukan penyidiknya masih mencari alat-alat bukti tambahan terkait penerimaan uang Rp27 miliar, lalu Rp70 miliar yang digunakan diduga diterima oleh Dito, serta Nistra.

“Kalau Dito itu, sampai sekarang ini, yang menyerahkan 27 miliar rupiah itu, kita (penyidik) belum ketahuan siapa orangnya. Kita telah ambil cctv-nya, tetapi belum tahu siapa orang (yang menyerahkan uang) itu. Belum dapat,” kata Febrie.

Karena itu, kata Febrie, pasukan penyidikannya masih menebalkan status hukum terhadap Dito baru sebatas saksi. “Sepanjang itu kita belum ketemu alat buktinya, kita bukan bisa jadi menetapkan (sebagai tersangka). Tetapi kalau ada ketemu alat buktinya, pasti kita penghargaan perkara untuk bisa saja dinyatakan sebagai tersangka,” ujarnya.

Begitu juga terkait dengan nama Nistra. Sampai ganti tahun pada waktu ini, kelompok penyidikan di area Jampidsus, tak berhasil mengetahui keberadaannya. “Termasuk Nistra itu. Sampai sekarang, kita belum dapat periksa akibat belum dapat orangnya,” ujar Febrie.

(Sumber:SindoNews)