Kasus Demam Berdarah pada Singapura Melonjak 2 Kali Lipat, 7 Orang Meninggal Planet

Kasus Demam Berdarah pada Singapura Melonjak 2 Kali Lipat, 7 Orang Meninggal Planet

JAKARTA – Kasus demam berdarah ke Singapura melonjak dua kali lipat pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang identik pada 2023.

Lebih dari 5.000 tindakan hukum demam berdarah meningkat dari 2.360 persoalan hukum pada kuartal yang serupa tahun lalu. Hal ini berdasarkan laporan Badan Lingkungan Hidup Nasional atau the National Environment Agency (NEA).

Pada 25 Maret lalu, tujuh warga meninggal globus lantaran infeksi demam berdarah lokal. Enam kematian tercatat sepanjang 2023.

Angka-angka yang disebutkan terungkap pada peluncuran kampanye nasional pencegahan demam berdarah pada hari Minggu, yang digunakan diwujudkan mendekati puncak musim demam berdarah pada bulan Mei hingga Oktober.

“Yang mengkhawatirkan adalah tahun ini kita mengawasi peningkatan jumlah keseluruhan kasus,” kata Sekretaris Parlemen Senior NEA Baey Yam Keng disitir channel news asia, Hari Senin (1/4/2024).

“Kami miliki lebih lanjut dari 300 persoalan hukum demam berdarah mingguan pada kuartal pertama ini,” ucap Baey Yam Keng lagi.

Populasi nyamuk Aedes aegypti juga kekal tinggi, dengan jumlah keseluruhan habitat perkembangbiakan nyamuk Aedes yang dimaksud ditemukan ke pemukiman pada Januari dua kali lipat dibandingkan Januari 2023.

Dalam pembaruan terkini dalam laman web NEA, terdapat 27 klaster demam berdarah ke bawah tingkat kewaspadaan “merah” pada 28 Maret, merujuk pada wilayah berisiko tinggi dengan 10 perkara atau lebih.

Ada empat serotipe virus dengue yang digunakan beredar ke Singapura, kata NEA pada situsnya. Serotipe virus dengue 2 (DENV-2) mendominasi sejak September 2023, dengan dominasi periodik DENV-1 lalu DENV-3 sebelumnya pada 2023.

Artikel ini disadur dari Kasus Demam Berdarah di Singapura Melonjak 2 Kali Lipat, 7 Orang Meninggal Dunia